Pengertian Activity Based Costing Untuk Pengendalian Biaya Perusahaan

Pengertian Activity Based Costing Untuk Pengendalian Biaya Perusahaan

Pengertian Activity Based Costing Untuk Pengendalian Biaya Perusahaan

Activity Based Costing (ABC) adalah metode penentuan biaya yang membebankan biaya tidak langsung (overhead) ke produk, jasa, atau pelanggan berdasarkan aktivitas yang benar-benar mengonsumsi sumber daya. Berbeda dengan metode tradisional yang sering membagi overhead hanya memakai satu dasar (misalnya jam tenaga kerja atau jumlah unit), ABC mencoba menjawab pertanyaan: biaya ini muncul karena aktivitas apa, dan siapa yang memicunya? Dengan cara ini, perusahaan bisa melihat biaya secara lebih realistis—terutama ketika variasi produk, proses, dan kanal layanan makin kompleks.

Dalam ABC, logikanya sederhana: resources → activities → cost object. Pertama, perusahaan mengidentifikasi sumber daya yang menimbulkan biaya (gaji, listrik, depresiasi mesin, sewa, bahan penunjang). Kedua, biaya sumber daya ditelusuri ke aktivitas: penerimaan pesanan, setup mesin, inspeksi kualitas, pengemasan, pengiriman, layanan purna jual. Terakhir, biaya aktivitas dibebankan ke objek biaya menggunakan cost driver relevan seperti pesanan, setup, jam mesin, inspeksi, atau pengiriman.

Mengapa ABC efektif untuk pengendalian biaya?

Pengendalian biaya bukan sekadar “memotong”, tetapi mengetahui sumber biaya yang paling berdampak dan mengurangi pemborosan tanpa merusak kualitas layanan. ABC membantu karena:

Pengertian Activity Based Costing Untuk Pengendalian Biaya Perusahaan
Ilustrasi. Sumber: Pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com
  1. Membuka biaya yang tersembunyi di overhead
    Pada metode tradisional, overhead sering “rata” sehingga produk sederhana bisa terlihat mahal, sementara produk kompleks terlihat murah. ABC memecah overhead menjadi aktivitas, sehingga biaya yang sebelumnya tersembunyi menjadi terlihat.
  2. Menunjukkan aktivitas yang tidak bernilai tambah
    ABC memudahkan perusahaan membedakan aktivitas yang bernilai tambah (misalnya proses inti yang dibayar pelanggan) vs aktivitas non-value added (misalnya rework, inspeksi berulang akibat cacat, waiting time). Dari sini, pengendalian biaya bisa diarahkan ke perbaikan proses, bukan sekadar pengurangan anggaran.
  3. Membantu keputusan harga dan profitabilitas
    Jika biaya per produk/jasa lebih akurat, perusahaan bisa menilai margin sebenarnya, menentukan harga yang lebih tepat, dan memutuskan apakah suatu produk perlu didesain ulang, dipangkas variasinya, atau dialihkan prosesnya.
  4. Memperkuat budgeting dan kontrol operasional
    Karena biaya diikat ke aktivitas, manajemen bisa mengontrol biaya dengan mengontrol pemicu aktivitas. Contoh: jika biaya setup tinggi, fokus perbaikan bisa pada pengurangan frekuensi setup (melalui standardisasi, batching, atau SMED).

Contoh sederhana penerapan

Dua produk bervolume sama berbeda kompleksitas; perubahan spesifikasi produk A memicu setup dan inspeksi lebih sering dibanding produk B. ABC mengungkap biaya unit A lebih tinggi, sehingga diperlukan pengendalian melalui simplifikasi, MOQ, atau penyesuaian harga.

Kesimpulan

Activity Based Costing metode biaya berbasis aktivitas, menelusuri overhead ke aktivitas lalu produk/jasa/pelanggan melalui pemicu biaya untuk pengendalian tajam. Hasilnya bukan hanya angka biaya yang lebih akurat, tetapi juga peta prioritas perbaikan proses yang jelas untuk efisiensi jangka panjang.

Jogja Media Training sedang mengadakan training Activity Based Costing (ABC) yang akan diadakan di Jogja. Informasi lebih lanjut hubungi nomor WA : 085166437761 (Saka) atau  082133272164 (Olisia).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *